Jawaban UAT – SIM

JAWABAN NO : 2

Fenomena kegagalan konversi sistem lama ke system baru dapat disebabkan karena  factor-faktor sbb :

1. Dari sisi Konsep Manajemen Perubahan

  • Sistem Teknologi Informasinya telah terpasang, tetapi perubahan tidak terjadi karena prosesnya berubah sedikit, organisasinya tidak menyesuaikan sehingga mengkanibalkan Teknologi Informasi atau strateginya tidak terdukung sehingga mengoverrule sistemnya.
  • Karena proyek pengalihan Sistem Informasi tidak memiliki arah dan tahapan yang baik.
  • Tidak terjalin komunikasi yang baik antara vendor atau konsultan TI dengan perusahaan sebagai pengguna TI sehingga TI yang diterapkan di perusahaan  itu tidak berguna sama sekali karena tidak mendukung apa yang dibutuhkan oleh perusahaan.
  • Karena investasi pada TI sudah dilakukan tetapi investasi pada sumber daya manusianya belum dijalankan sehingga sumber daya manusia yang ada belum siap memanfaatkan produk TI yang dimiliki.
  • Karena pengalihan sistem informasinya kerap kali hanya mengikuti perkembangan teknologi dan kurang mempertimbangkan dukungannya terhadap behutuhan bisnis.
  • Level kematangan perusahaan terhadap TI masih rendah.
  • Karyawan menghadapi masa transisi yang tidak terkontrol yaitu keharusan menjalani adaptasi yang dapat berupa adaptasi teknikal (skill, kompetensi, proses kerja), kultural (perilaku, mind set, komitment) dan politikal (munculnya isu efisiensi karyawan/PHK, sponsorship/dukungan top management), sehingga terjadi saling tuding di dalam organisasi, dimana manajemen puncak menyalahkan bawahan, konsultan, vendor bahkan terkadang peranti TI itu sendiri.

2. Dari Pihak Management (End User)

  • Kurangnya keterlibatan end-user dalam proses pengembangan
  • Pernyataan kebutuhan dan spesifikasi sistem yang senantiasa berubah-ubah
  • Kurangnya dukungan dari manajemen eksekutif di perusahaan tersebut.
  • Buruknya perencanaan yang disusun oleh pihak manajemen sehingga ketika konversi dilakukan muncul berbagai hambatan.
  • Ketidakinginan manajemen dalam merubah paradigma berpikir maupun bekerja
  • Inkompetensi teknologi atau kurangnya pengalaman dari vendor maupun sumber daya manusia dari penyedia jasa outsourcing sistem informasi.
  • Kurangnya kemampuan memberikan pemahaman dan penjelasan yang memadai mengenai paradigma yang dipergunakan dalam sistem baru kepada mereka yang berkepentingan (user dan end-user), sehingga seringkali terjadi kekeliruan dalam cara memandang pergantian sistem.
  • Pemilihan aplikasi yang keliru atau tidak sesuai dengan situasi dan kondisi perusahaan yang membutuhkannya.
  • Terjadinya kesalahan dalam usaha membantu manajemen dalam mendefinisikan kebutuhannya, sehingga ketika sistem baru yang akan diterapkan, tidak memberikan hasil sebagaimana yang diharapkan oleh para pihak terkait (user dan end-user).
  • Kurangnya pelatihan yang memadai dan efektif kepada segenap pihak terkait, sehingga mereka tidak dapat menggunakan dan memanfaatkannya secara baik.
  • Sumberdaya Manusia (SDM) di perusahaan tersebut tidak siap dalam menerima sistem baru karena harus dapat mengubah pola kebiasaan dan kebudayaan yang sebelumnya diterapkan di perusahaan. Sehingga, seringkali SDM sulit untuk menyesuaikan diri.
  • Ketidakinginan para user untuk merubah cara kerja dalam beraktivitas sehari-hari sehingga selalu menentang segala bentuk aplikasi sistem baru tersebut, yang pada dasarnya membutuhkan keinginan dan kemampuan untuk bekerja dengan cara yang lebih efektif dan efisien.

Beberapa cara / metode dalam melakukan konversi system lama ke system baru :

A. Direct Cut Over / Immediete Cut Over

Konversi ini dilakukan dengan cara menghentikan sistem lama dan menggantikannya dengan sistem baru secara langsung (cold turity) . Apabila konversi telah dilakukan dengan cara ini, maka tidak ada cara lagi untuk kembali  ke sistem lama.

Cara konversi ini merupakan cara yang paling berisiko, tetapi memiliki biaya yang murah, dan akan bermanfaat apabila :

■   Sistem tersebut tidak mengganti sistem lain

■   Sistem yang lama sepenuhnya tidak bernilai

■   Sistem yang baru bersifat kecil atau sederhana atau keduanya

■   Rancangan sistem baru sangat berbeda dari sistem lama, dan perbandingan antara sistem-sistem tersebut tidak berarti.

Kelebihan :

Relatif tidak mahal.

Kelemahan :

Mempunyai risiko kegagalan yang tinggi.

B. Paralell Cut Over

Konversi Paralel adalah suatu pendekatan konversi system, dimana sistem lama dan system baru beroperasi secara serentak untuk beberapa periode waktu tertentu. Jika sistem baru sudah bisa diterima untuk menggantikan sistem lama, maka sistem lama segera dihentikan dan digantikan dengan system yang baru.

Cara seperti ini merupakan pendekatan yang paling aman, tetapi merupakan cara yang paling mahal, karena pemakai harus menjalankan dua system sekaligus.

Kelebihan :

Memberikan derajad proteksi yang tinggi kepada organisasi dari kegagalan sistem baru.

Kelemahan :

Besarnya biaya sangat mahal untuk penduplikasian fasilitas-fasilitas dan biaya personel yang memelihara sistem rangkap tersebut.

C.  Phased In  Cut Over

Konversi cara ini dilakukan dengan menggantikan suatu bagian tertentu dari system lama dengan sistem baru.  Jika terjadi sesuatu, maka bagian yang baru tersebut akan diganti kembali dengan yang lama. Namun jika system berjalan normal, maka modul-modul baru akan dipasangkan lagi untuk mengganti modul-modul lama yang lain, demikian seterusnya, akhirnya semua sistem lama akan tergantikan oleh sistem baru.

Dengan metode Konversi Phase-in, sistem baru diimplementasikan beberapa kali, yang secara sedikit demi sedikit menggantikan system yang lama. Cara ini menghindarkan dari risiko yang ditimbulkan oleh konversi langsung dan memberikan waktu yang banyak kepada pemakai untuk mengasimilasi perubahan.

Kelebihan :

Kecepatan perubahan dalam organisasi tertentu bisa diminimasi, dan sumber-sumber pemrosesan data dapat diperoleh sedikit demi sedikit selama periode waktu yang luas.

Kelemahan :

Keperluan biaya yang harus diadakan untuk mengembangkan interface temporer dengan sistem lama, daya terapnya terbatas, dan terjadi kemunduran semangat di organisasi, sebab orang-orang tidak pernah merasa menyelesaikan sistem

D. Pilot Project

Pendekatan ini dilakukan dengan cara menerapkan sistem baru hanya pada lokasi tertentu yang diperlakukan sebagai pelopor. Jika konversi ini dianggap berhasil, maka akan diperluas ke tempat-tempat yang lain.

Dengan metode Konversi Pilot, hanya sebagian dari organisasilah yang mencoba mengembangkan sistem baru. Berbeda dengan metode phase-in yang melakukan segmentasi sistem,  metode pilot melakukan konversi dengan melakukan segmentasi organisasi.

JAWABAN NO : 3

Urgensi Maintainability Softaware,   lebih dari sekedar memperbaiki kesalahan , namun jauh lebih luas lagi mencakup aspek-aspek  sbb :

1. Corrective Maintenance

Adalah  suatu proses diagnosis dan korektif dari satu atau lebih kesalahan, selama penggunaan software. Kesalahan pada software akan senantiasa  ada  dan dilaporkan  oleh user  kepada pihak pengembang.

Sangat tidak beralasan untuk mengasumsikan bahwa ujicoba software akan menemukan seluruh kesalahan laten yang ada didalam software tersebut. Dengan kondisi seperti inilah, maka sangat logis  dikatakan  bahwa  tindakan coreective maintenance sangat diperlukan dalam kegiatan maintainability softaware

2.  Adaptive Maintenance

Adalah suatu  aktivitas yang memodifikasi software secara cepat dan tepat yang disesuaikan dengan  perubahan lingkungan (environment) .

Adaptive Maintenance sangat diperlukan untuk menangani perubahan yang mendadak yang ditemukan dalam setiap aspek perhitungan (computing), mengingat  penggunaan aplikasi software dapat mencapai waktu 10 tahun atau lebih, ,  sedangkan new released software biasanya dilakukan secara regular pada waktu tertentu.

3. Perfective Maintenance

Adalah suatu proses penyempurnaan software ketika paket software tersebut  sudah dapat diaplikasikan dan digunakan oleh user.

Penyempurnaan software itu sendiri biasanya direkomendasikan dari para user untuk menciptakan kemampuan  baru  dan melakukan modifikasi terhadap fungsi yang sudah ada, atau penyempurnaan kebutuhan umum lainnya yang diperoleh ketika software tersebut digunakan oleh user.

4.  Preventive Maintenance

Adalah ketika suatu software dimodifikasi untuk meningkatkan kemampuan pemeliharaan, atau keandalan, atau untuk menyediakan basis yang lebih baik dalam peningkatan kehandalan dimasa yang akan datang. Kegiatan Preventive Maintenance biasanya atas inisiatif pengembang dan bukan karena rekomendasi User.

Aktifitas ini sering juga disebut dengan reverse engineering dan  ire-engineering


JAWABAN NO : 4

ERP (Enterprise Resource Planning),  adalah merupakan salah satu bagian dari sistem informasi yang berperan dalam mengintegrasikan dan mengotomasikan proses bisnis yang berhubungan dengan aspek operasi, produksi maupun distribusi suatu perusahaan.

Karakter System  ERP sering  juga disebut sebagai Back Office System yang mengindikasikan bahwa pelanggan dan publik secara umum tidak dilibatkan dalam sistem ini. Berbeda dengan Front Office System yang langsung berurusan dengan pelanggan seperti, Customer Relationship Management (CRM), e-Government, e-Commerce,  dsb.

Posisi ERP  dalam  Enterprise Application Architecture suatu perusahaan dapat digambarkan sbb :

Beberapa keuntungan yang bisa diambil dari implementasi ERP, antara lain :

1.  Integrasi Data Keuangan

Dengan mengintegrasikan data keuangan sehingga top management bisa melihat dan mengontrol kinerja keuangan perusahaan dengan lebih baik

2.  Standarisasi Proses Operasi

Dengan menstandarkan proses operasi melalui implementasi  ERP yang  sudah  best practice sehingga terjadi peningkatan produktivitas, penurunan inefisiensi dan peningkatan kualitas produk

3. Standarisasi Data dan Informasi

ERP dapat menstandarkan data dan informasi melalui keseragaman pelaporan, terutama untuk perusahaan besar yang biasanya terdiri dari banyak business unit dengan jumlah dan jenis bisnis yg berbeda-beda

4.  Keuntungan yg bisa diukur

  • Penurunan inventori
  • Penurunan tenaga kerja secara total
  • Peningkatan service level
  • Peningkatan kontrol keuangan
  • Penurunan waktu yang di butuhkan untuk mendapatkan informasi

Sistem ERP memiliki beberapa karakteristik sebagai berikut:

  • Sistem ERP merupakan paket software yang didesain pada lingkungan client-server baik tradisional (berbasis desktop) maupun berbasis web.
  • Sistem ERP mengintegrasikan mayoritas bisnis proses yang ada.
  • Sistem ERP memproses seluruh transaksi organisasi perusahaan.
  • Sistem ERP menggunakan database skala enterprise untuk penyimpanan data.
  • Sistem ERP mengijinkan pengguna mengakses data secara real time.

Dalam beberapa kasus, ERP digunakan untuk mengintegrasikan proses transaksi dan aktifitas perencanaan, dan oleh karena itu, ERP harus:

  • Mendukung berbagai jenis bahasa dan sistem keuangan di berbagai negara.
  • Mendukung industri-industri tertentu (misal: SAP mampu mendukung berbagai macam industri seperti industri minyak dan gas, kesehatan, kimia, hingga perbankan).
  • Mampu dikostumasi dengan mudah tanpa harus mengubah source code program.

Sistem ERP yang ada saat ini, kebanyakan menggunakan sistem arsitektur 3-tier atau lebih yang terdiri dari :

1.  Presentation Layer

    Presentation layer merupakan sarana bagi pengguna untuk menggunakan sistem ERP. Presentantaion layer dapat berupa sebuah aplikasi (sistem berbasis desktop) atau sebuah web browser (sistem berbasis web) yang memiliki graphical user interface (GUI). Pengguna dapat menggunakan fungsi-fungsi sistem dari sini, seperti menambah dan menampilkan data.

    2. Application layer

      Lapisan ini berupa server yang memberikan layanan kepada pengguna.  Server merupakan pusat business rule, logika fungsi, yang bertanggung jawab menerima, mengirim dan mengolah data dari dan ke server database.

      3. Database layer

        Berisi server database yang menyimpan semua data dari sistem ERP. Database layer bertanggung jawab terhadap manajemen transaksi data.

        Implementasi Sistem Informasi yang berbasis ERP, lebih difokuskan kepada  Internal Business Process  yang ada pada perusahaan tersebut  (sebagaimana  disebutkan pada gambar Enterprise Application Architecture) .

        Sistem Informasi yang berbasis ERP biasanya mendukung seluruh  kegiatan proses manufaktur, logistik, distribusi, persediaan (inventory), pengapalan, invoice dan akuntasi perusahaan. Ini berarti bahwa sistem informasi ini nantinya akan membantu dalam mengontrol aktivitas bisnis seperti penjualan, pengiriman, produksi, manajemen persediaan, manajemen kualitas dan sumber daya manusia.

        Posted in Uncategorized | Comments Off on Jawaban UAT – SIM

        OUTSOURCING TEKNOLOGI INFORMASI

        Pendahuluan

        Perusahaan di masa era informasi adalah masa transformasi yang revolusioner, Kinerja perusahaan tidak hanya dinilai dari sisi financial dan aktiva tetapi membahas segala aspek yang harus menyediakan cost leadership, diffrention, dan focus. Era informasi perusahaan lebih responsif untuk menjawab tantangan pasar, persiapan untuk menghadapi tantangan perusahaan saat ini banyak mulai memutuskan untuk outsourcing untuk memperbaiki kinerja perusahaan terkait dengan proses bisnis yang bukan merupakan core competence atau core business-nya. Diharapkan dengan menyerahkan pengelolaan proses tersebut ke tangan perusahaan lain sebagai mitra bisnis yang memiliki core business di bidang tersebut, terciptalah sebuah proses dengan kinerja optimal

        Menurut Anthony diromulado dan vijay Gurbaxani (Strategic intent for IT Outsourcing
        ,Sloan Management Review, Summer 1998, 3,4 Academic Research Library) menyatakan bahwa tiga pokok utama outsourcing IT untuk memperbaiki IS yaitu meningkatkan kinerja bisnis, menghasilkan pendapatan baru dan yang dapat membantu perusahaan untuk menilai outsourcing. Untuk mencapai tujuan strategis perusahaan dengan pertimbangan mengurangi biaya dan meningkatkan efisiensi sumber daya IT dengan memperbaiki IS yang sesuai dengan bidang bisnis, akan tetapi tujuan eksplorasi komersial tentang aplikasi, operasi, infrastruktur dan mengetahui bagaimana memperkenalkan ke pasar berdasarkan produk dan layanan

        Berdasarkan pertimbangan tersebut tercetus tentang insentif klien dan vendor outsourcing untuk sharing resiko dan rewards yang didapat berdasarkan tipe kontrak, hak putusan, pengukuran kinerja. Senior manajer memerlukan pedoman untuk merencanakan transformasi pengelolahan IS berdasarkan proses system standard dengan system core bisnis dengan platform teknologi yang global dan juga memikirkan transfer kepemilikan dan tanggung jawab asset IT dari pelanggan ke vendor outsourcing yang merupakan kritikal untuk sukses.
        Dorongan Perusahaan Melakukan ‘IT Outsourcing’
        Hampir semua perusahaan menengah ke atas melakukan atau sedang mempertimbangkan melakukan ‘IT Outsourcing’. IT Outsourcing atau melimpahkan urusan TI kepada perusahaan spesialis TI (vendor) ini cenderung meningkat. Ada beberapa faktor yang mendorong perusahaan melakukan ‘IT Outsourcing yaitu:
        • Biaya dan Kualitas

        Dengan outsourcing jumlah karyawan, data center, dan kegiatan pengembangan TI lebih sedikit dibandingkan dilakukan sendiri oleh perusahaan, sehingga dapat menghemat biaya overhead dan meningkatkan efisiensi. Selain itu perusahaan dapat meningkatkan kualitas karena dapat lebih baik melakukan kontrol terhadap service dan response time, melakukan inovasi, dan meningkatkan kompetensi.

        • Turunnya Kinerja TI

        Internal TI yang tidak dapat dikembangkan dan tertinggal menyebabkan kinerja TI menurun. Sehingga perusahaan harus segera memperlengkapi kembali struktur TI yang ketinggalan agar tetap kompetitif. Outsourcing menjadi pilihan karena tugas manajemen yang banyak dan cenderung kekurangan waktu, sementara harus mengejar target kinerja yang diinginkan.
        • Menyederhanakan Agenda Manajemen

        Meningkatnya persaingan menyebabkan perusahaan melakukan efisiensi dengan menekan biaya dan waktu. Bagi perusahaan dengan IT bukan sebagai inti kompetensinya (noncore competence), lebih menyukai outsourcing untuk mengurangi time-consuming dan keruwetan masalah. Perusahaan melimpahkan fungsi ‘noncore’-nya, sehingga dapat memfokuskan energinya untuk melakukan strategi kompetisi.
        •Keuangan

        Outsourcing memungkinkan mencarikan aset TI yang intangible dan memperkuat balance sheet serta menghindari investasi yang sporadis di masa depan. Modal untuk hardware/software maupun aset intangible TI lainnya lebih dulu ditanggung oleh vendor. Selain itu perusahaan dapat merubah fixed-cost menjadi variable cost. Hal ini penting bagi perusahaan yang mengalami perampingan.
        • Budaya Perusahaan

        Perusahaan dengan data center internal yang banyak dan terpisah-pisah pada tiap divisi seperti pulau-pulau, akan sulit untuk dikonsolidasikan. Divisi TI internal tidak atau kurang mempunyai pengaruh untuk menarik data menjadi terpusat (centralized) karena budaya yang sudah terbentuk decentralized, yaitu data dikelola oleh masin-masing divisi. Sehingga outsourcing menjadi jalan tengah isu pemusatan data center ini, karena tidak dilakukan langsung oleh divisi manapun.
        • Faktor Lain

        –        Perusahaan ingin mengurangi resiko, namun tetap ingin mendapatkan pengetahuan atau meningkatkan kompetensi.

        –        Semakin banyaknya perusahaan vendor baik kecil maupun besar dengan agresif menawarkan paket produk dan jasa yang menarik.

        Pemilihan Vendor Outsourcing

        Untuk mendapatkan perusahaan outsourcing (vendor ) yang berkualitas dan kredibel perusahaan pengguna bisa mendapatkannya melalui berbagai macam cara seperti menghubungi asosiasi, mencari pada situs SDM, majalah bisnis dan SDM, referensi dari perusahaan lain, peserta seminar outsourcing, referensi konsultan dan tender. Perusahaan yang telah mendapatkan calon – calon vendor dari berbagai sumber di atas sebaiknya mengadakan tender untuk memilih yang terbaik dilihat dari harga, jenis pelayanan serta kualitas pelayanan.

        Dalam memilih vendor harus memperhatikan kompetensi mereka yang meliputi hal – hal sebagai berikut :

        1. Harga

        Faktor harga memang penting untuk dipertimbangkan namun tidak berarti perusahaan harus memilih vendor yang paling murah sebab belum tentu yang murah tadi mempunyai kualitas yang baik.

        2. Jangka waktu pembayaran :

        Faktor ini juga penting diperhatikan. Tidak semua vendor harus dibayar di muka. Kalau jumlah karyawan yang dipakai tidak terlalu banyak seharusnya jangka waktu pembayaran bisa fleksibel, tapi kalau jumlah yang disupply cukup banyak memang harus ada pembayaran di muka sebab resikonya sangat besar . Jangka waktu pembayaran ini sangat berpengaruh dalam presentasi management fee yang dibayarkan ke vendor. Perusahaan yang melakukan pembayaran di muka biasanya akan mendapatkan management fee yang lebih kecil.

        3. Kapasitas pelayanan :

        Kapasitas pelayanan menentukan harga. Semakin tinggi pelayanan yang diminta kepada vendor semakin tinggi pula harganya. Misalnya perusahaan meminta vendor menyediakan tenaga kerja untuk ditempatkan di Irian atau Aceh, maka vendor akan meminta biaya transpor. Atau kalau tidak vendor akan mencari karyawan tersebut dari penduduk setempat.

        4. Variasi produk :

        Ada vendor yang menyediakan pekerja untuk semua jenis pekerjaan tapi ada juga yang berspesialisasi pada jenis pekerjaan tertentu misalnya call center, collection atau marketing saja.

        5. Klien dan Mitranya :

        Yang dimaksud dengan Klien adalah perusahaan yang menggunakan jasa vendor tadi, apakah perusahaan yang bonafid atau perusahaan yang tidak dikenal. Kalau klien dari vendor tadi adalah perusahaan yag bonafid kemungkinana vendor tersebut juga bagus. Sedang yang dimaksud dengan Mitra adalah pengelola vendor tersebut apakah mempunyai kompetensi di bidang outsource atau hanya sekedar mempunyai uang banyak tetapi tidak memahami bisnis outsource.

        6. Periode Rekrutmen dan Seleksi :

        Periode rekrutmen mempengaruhi delivery. Kalau yang dibutuhkan adalah tenaga kerja dengan kualifikasi biasa seperti data entry, lulusan D3, seharusnya bisa di-deliver dengan cepat. Namun kalau untuk tenaga kerja yang mempunyai kualifikasi lebih tinggi seperti kredit analis atau programmer atau manager maka diperlukan waktu yang lebih lama.

        7. Metode Perekrutan :

        Metode rekrutmen juga mempengaruhi harga. Semakin banyak jenis test yang dilakukan semakin tinggi pula harga yang harus dibayar kepada vendor. Ada jenis pekerjaan dimana karyawan yang kaan bekerja disitu harus melalui berbagai macam test, misalnya media TV. Test yang dilalui oleh calon reporter TV bermacam – macam mulai dari test IQ, pengetahuan umum, test kesehatan, wawancara dengan psikolog. Selain itu ada lagi syarat lainnya seperti IP harus tinggi, wajah harus ganteng dan cantik dan lain – lain. Namun juga ada yang memerlukan test yang sederhana saja terutama untuk low skiled workers.

        Masalah Umum Yang Terjadi Dalam Penggunaan Outsourcing

        1. Penentuan partner outsourcing. Hal ini menjadi sangat krusial karena partner outsourcing harus mengetahui apa yang menjadi kebutuhan perusahaan serta menjaga hubungan baik dengan partner outsourcing.
        2. Perusahaan outsourcing harus berbadan hukum. Hal ini bertujuan untuk melindungi hak-hak tenaga outsource, sehingga mereka memiliki kepastian hukum.
        3. Pelanggaran ketentuan outsourcing. Demi mengurangi biaya produksi, perusahaan terkadang melanggar ketentuan-ketentuan yang berlaku. Akibat yang terjadi adalah demonstrasi buruh yang menuntu hak-haknya. Hal ini menjadi salah satu perhatian bagi investor asing untuk mendirikan usaha di Indonesia.
        4. Perusahan outsourcing  memotong gaji tenaga kerja tanpa ada batasan sehingga, yang mereka terima, berkurang lebih banyak.

        Keefektifan Outsourcing

        Dengan melihat alasan menggunakan outsourcing, faktor-faktor pemilihan perusahaan penyedia jasa outsourcing, serta kepuasan perusahaan terhadap tenaga outsource, sebanyak 68.2% menyatakan bahwa penggunaan tenaga outsource dinilai efektif dan akan terus menggunakan outsourcing dalam kegiatan operasionalnya.

        Untuk dapat lebih efektif disarankan adanya:

        1. Komunikasi dua arah antara perusahaan dengan provider jasa outsource (Service Level Agreement) akan  kerjasama, perubahan atau permasalahan yang terjadi.
        2. Tenaga outsource telah di training terlebih dahulu agar memiliki kemampuan/ketrampilan.
        3. Memperhatikan hak dan kewajiban baik pengguna outsource maupun tenaga kerja yang ditulis secara detail dan mengingformasikan apa yang menjadi hak-haknya.

        Sedangkan yang menyebabkan outsourcing menjadi tidak efektif adalah karena kurangnya knowledge, skill dan attitude (K.S.A) dari tenaga outsource.

        Bidang Outsourcing Sistem Informasi

        Sebenarnya outsourcing SI dapat meliputi semua layanan SI yang dibutuhkan perusahaan. Price Waterhouse mencantumkan list pekerjaan yang dapat dioutsourcingkan antara lain:

        • Pemeliharaan aplikasi (Applications maintenance)
        • Pengembangan dan implementasi aplikasi (Application development and mplementation)
        • Data centre operations
        • End-user support
        • Help desk
        • Dukungan teknis (Technical support)
        • Perancangan dan design jaringan
        • Network operations
        • Systems analysis and design
        • Business analysis
        • Systems and technical strategy

        Daftar Pustaka :

        http://onvalue.wordpress.com/2007/10/10/perana-outsourcing-teknologi-informasi-dalam-meningkatkan-keunggulan-kompetitif/

        http://www.biskom.web.id/2008/07/22/outsourcing-solusi-sistem-informasi-masa-depan.bwi/comment-page-1#comment-1597

        http://pimpimarda.blog.com/2010/01/10/it-outsourcing/comment-page-1/#comment-51

        http://triatmono.wordpress.com/2007/11/28/best-practice-it-outsourcing/

        http://www.biskom.web.id/2008/07/22/outsourcing-solusi-sistem-informasi-masa-depan.bwi/comment-page-1#comment-1562

        http://swa.co.id/2006/08/metrodata-tetap-fokus-pada-it-outsourcing-dan-distributor/comment-page-1/#comment-1659

        http://advice.cio.com/comment/reply/10647

        http://www.sharingvision.biz/2010/05/03/it-outsourcing-update-2010/

        http://www.setiabudi.name/archives/1141/comment-page-1

        http://pakpid.wordpress.com/2010/01/05/self-sourcing-in-sourcing-and-out-sourcing/

        http://ezinearticles.com/?Outsourcing-In-A-Nutshell&id=1167849

        http://adabisnis.com/outsourcing-kan-pekerjaan-anda/

        http://theoutsourcingblog.com/

        http://www.theoutsourceblog.com/2010/07/it-outsourcingukrainian-breakthrough/

        http://hellomycaptain.blogspot.com/2009/10/outsourcing-strategy-as-second-set-of.html

        http://epam-systems.blogspot.com/

        http://www.chinalawblog.com/2007/06/chinas_next_top_ten_cities_for.html

        http://offshore-it-outsourcing.blogspot.com/

        http://www.insigmaus.com/2010/04/27/insigma-ranked-top-50-world%E2%80%99s-best-outsourcing-service-providers/#comments

        http://www.remi-vespa.com/?p=164

        Posted in Uncategorized | Comments Off on OUTSOURCING TEKNOLOGI INFORMASI